RESUME PELATIHAN IMPLEMENTASI
KURIKULUM 2013
( 01 – 05
Juli 2014 di SDN 1 Ciruji
Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak)
A. RASIONAL
PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Kurikulum menurut
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (19) adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu.
Pengembangan Kurikulum
2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang
telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Pengembangan kurikulum
perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi, baik tantangan
internal maupun tantangan eksternal.
Tantangan internal
antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan
pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan)Standar Nasional Pendidikan yang
meliputi standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar
pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar
penilaian, dan standar kompetensi lulusan. Tantangan internal lainnya terkait
dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk
usia produktif.
Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan
tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi
masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta berbagai fenomena
negatif yang mengemuka.
Pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi
pergeseran atau perubahan pola pikir. Pergeseran itu meliputi proses
pembelajaran sebagai berikut:1)dari berpusat pada guru menuju berpusat pada
siswa;2)dari satu arah menuju interaktif; 3)dari pasif menuju
aktif-menyelidiki; 4)dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata; 5)dari
pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim; 6)dari alat tunggal
menuju alat multimedia; 7)dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif;
8)dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan; 9)dari penyampaian
pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.
B. STRUKTUR
KURIKULUM SD/MI
Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum
dalam bentuk mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum,
distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk
mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Jam belajar
SD/MI adalah 35 menit. Struktur Kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut. Kelas 1 30 JP, kelas 2: 32 JP/minggu,
kelas 3 :34 JP/minggu, kelas IV-VI : 36 JP/Minggu
C. ELEMEN
PERUBAHAN KURIKULUM 2013
Perubahan kurikulum 2013
meliputi beberapa elemen, antara lain:1) Kompetensi Lulusan :
Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang
meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan; 2)Kedudukan
Mata Pelajaran : Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran
berubah menjadi matapelajaran dikembangkan dari kompetensi; 3)Pendekatan :
Tematik Terpadu dalam semua mata pelajaran.
Selain hal di atas
perubahan juga tentang Struktur Kurikulum (Mata pelajaran dan
alokasi waktu) meliputi: 1)holistik berbasis sains (alam, sosial, dan budaya);
2)jumlah matapelajaran dari 10 menjadi 6; 3)jumlah jam bertambah 4 JP/minggu
akibat perubahan pendekatan pembelajaran.
Proses Pembelajaran
mengalami perubahan meliputi:1)Pembelajaran Tematik Terpadu; 2)Standar Proses
yang semula terfokus pada Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi
dilengkapi dengan Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan
Mencipta; 3)belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di
lingkungan sekolah dan masyarakat; 4)guru bukan satu-satunya sumber belajar;
5)sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan.
Penilaian Hasil Belajar
: 1)Penilaian berbasis kompetensi; 2)ergeseran dari penilain melalui tes
[mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja], menuju penilaian
autentik [mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
berdasarkan proses dan hasil]; 3)memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu
pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap
skor ideal (maksimal) ; 4)penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga
kompetensi inti dan SKL ; 5)mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa
sebagai instrumen utama penilaian .
Ekstrakurikuler meliputiPramuka
(wajib),UKS,PMR, Bahasa Inggris dan atau disesuaikan kebutuhan.
D. SKL, KI,
dan KD
Hubungan SKL,KI, dan KDdapat disimpulkan
sebagai berikut: KD dikembangkan dari KI; KI dikembangkan dari SKL; SKL
meliputi sikap, keterampilan dan pengetahuan; KI terdiri dari KI.1, KI.2, KI.3
dan KI.4; KI.1 (sikap spiritual) dikembangkan dalam KD1.1, KD1.2, KD1.3 dan
KD1.4; KI.2 (sikap sosial) dikembangkan dalam KD2.1, KD2.2, KD2.3 dan KD2.4;
KI.3 (pengetahuan) dikembangkan dalam KD3.1, KD3.2, KD3.3 dan KD3.4; KI.4
(keterampilan) dikembangkan dalam KD4.1, KD4.2, KD4.3 dan KD4.4; KD
dikembangkan dalam indikator.
E. KONSEP
PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU
Model pembelajaran
tematik terpadu (PTP) atau integrated thematic instruction (ITI) pertama kali
dikembangkan pada awal tahun 1970-an; PTP diyakini sebagai salah satu model
pengajaran yang efektif (highly effective teaching model);Pembelajaran Tematik
Terpadu mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi, fisik, dan
akademik; secara empirik pembelajaran tematik terpadu (PTP) berhasil memacu percepatan
dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik (enhance learning and increase
long-term memory capabilities of learners) untuk waktu yang panjang;
menyediakan waktu bersama yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan
mensintesis; menginspirasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar.
Kelebihan Pembelajaran
Tematik Terpadu antara lain: memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively
different) dengan model pembelajaran lain, karena sifatnya memandu peserta
didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking)
atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple
thinking skills); dan sebuah proses inovatif bagi pengembangan dimensi sikap,
keterampilan dan pengetahuan.
Manfaat Pendekatan Tematik
Terpadu antara lain: 1)suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan;
2)menggunakan kelompok kerjasama, kolaborasi, kelompok belajar, dan strategi
pemecahan konflik yang mendorong peserta didik untuk memecahkan masalah;
3)mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci kelas yang ramah otak (brain-friendly
classroom); 4)peserta didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses
informasi. Proses itu tidak hanya menyentuh dimensi kuantitas dan kualitas
mengeksplorasi konsep-konsep baru dan membantu peserta didik mengembangkan
pengetahuan secara siap; 5)materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat
diaplikasikan langsung oleh peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari;
6)peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan program
belajar dapat dibantu oleh guru dengan cara memberikan bimbingan khusus dan
menerapkan prinsip belajar tuntas;7) program pembelajaran yang bersifat ramah
otak memungkinkan guru untuk mewujudkan ketuntasan belajar dengan
menerapkan variasi cara penilaian.
Tahap Pembelajaran
Tematik Terpadumeliputi: 1)menentukan tema, dimungkinkan disepakati
bersama dengan peserta didik; 2)mengintegrasikan tema dengan kurikulum yang
berlaku. dengan mengedepankan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
3)mendesain rencana pembelajaran. Tahapan ini mencakup pengorganisasian sumber
dan aktivitas ekstrakurikuler dalam rangka mendemonstrasikan kegiatan dalam
tema; 4)aktivitas kelompok dan diskusi. Yang memberi peluang berpartisipasi dan
mencapai berbagi persepektif dari tema. Hal ini membangun guru dan peserta
didik dalam mengeksplorasi subjek.
Model Pembelajaran
Tematik Terpadu adalah model jaring laba-laba (webbed model). Model ini
berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan
pembelajaran. Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan pembelajaran, baik
dalam mata pelajaran tertentu maupun antarmata pelajaran. (Robin Fogarty
1991.)
F. KONSEP
PENDEKATAN SCIENTIFIC
Kurikulum 2013
menekankan penerapan pendekatan scientific (meliputi: mengamati, menanya, mencoba,
mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran)
(Sudarwan, 2013).
Kurikulum 2013
menekankan penerapan pendekatan scientific (meliputi: mengamati, menanya,
mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata
pelajaran) (Sudarwan, 2013).
Komponen-komponen
penting dalam mengajar menggunakan pendekatan scientific(McCollum
: 2009) antara lain:1)menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan
rasa keingintahuan (Foster a sense of wonder); 2)meningkatkan
keterampilan mengamati (Encourage observation); 3)melakukan analisis
( Push for analysis) dan4)b erkomunikasi (Require communication).
Aspek-aspek pada
pendekatan scientific terintegrasi pada pendekatan keterampilan proses dan
metode ilmiah antara lain:1) keterampilan proses sains merupakan seperangkat
keterampilan yang digunakan para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah;
2)keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman langsung
sebagai pengalaman pembelajaran (Rustaman :2005).
Langkah-langkah metode
ilmiah(Helmenstine, 2013) antara lain: melakukan pengamatan, menentukan
hipotesis, merancang eksperimen untuk menguji hipotesis, menguji hipotesis,
menerima atau menolak hipotesisdan merevisi hipotesis atau membuat kesimpulan.
G. KONSEP
PENILAIAN AUTENTIK PADA PROSES DAN HASIL BELAJAR
Penilaianautentik (Authentic
Assessment) adalah pengukuran yangbermakna secara signifikan atas hasil
belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.Istilah Assessment merupakan sinonim dari
penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi.Istilah autentik merupakan
sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel.
Secara konseptual
penilaianautentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan
dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun.Ketika menerapkan
penilaianautentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik,
guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan,
aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Penilaian autentik
memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai
dengan tuntutan Kurikulum 2013.Penilaian tersebut mampu menggambarkan
peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi,
menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Penilaianautentik
cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan
peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih
autentik.
Penilaianautentik sangat
relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang
sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai.Peserta didik diminta untuk
merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan
pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong
kemampuan belajar yang lebih tinggi.
Pada penilaianautentik
guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian
keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah. Penilaianautentik mencoba
menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan
keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar. Karena penilaian itu
merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi
pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan
berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka
lakukan.
Penilaian autentik
sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena
berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar
tentang subjek.Penilaianautentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan,
dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik,
bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau
belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru
dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi
apa pula kegiatan remedial harus dilakukan.
Penilaian autentik
mengharuskan pembelajaran yang autentik pula. Menurut Ormiston, belajar
autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam
kenyataannya di luar sekolah.Penilaian autentik terdiri dari berbagai teknik
penilaian. Pertama, pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang
berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat
kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas
dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis proses yang digunakan untuk
menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang ada.
Penilaian autentik
akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa
dapat mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu yang berbeda.Konstruksi
sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana
peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif. Keterlibatan peserta
didik dalam melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka.
Dalam pembelajaran
autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi dengan pendekatan
scientific, memahami aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu sama lain
secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang
ada di luar sekolah. Guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa
yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari, memiliki
parameter waktu yang fleksibel, dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas.
Penilaian autentik pun
mendorong peserta didik mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis,
mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk
kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
Pada pembelajaran
autentik, guru harus menjadi “guru autentik.” Peran guru bukan hanya pada
proses pembelajaran, melainkan juga pada penilaian. Untuk bisa melaksanakan
pembelajaran autentik, guru harus memenuhi kriteria tertentu:1)mengetahui
bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain
pembelajaran; 2)mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk
mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan
dan menyediakan sumber daya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi
pengetahuan;3)menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan
mengasimilasikan pemahaman peserta didik;4)menjadi kreatif tentang bagaimana
proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari
dunia di luar tembok sekolah.
Jenis-jenis Penilaian Autentik:Penilaian
Kinerja, Penilaian Proyek, Penilaian Portofolio, Penilaian Tertulis.
1. a. Penilaian
Kinerja
Penilaian autentik
sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan
aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para
peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan
untuk menentukan kriteria penyelesaiannya.
Berikut ini cara
merekam hasil penilaian berbasis kinerja: daftar cek
(checklist),catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records), skala
penilaian (rating scale), dan memori atau ingatan (memory approach).
1. b. Penilaian
Proyek
Penilaian proyek
(project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus
diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian
tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan
penyajian data.
Berikut ini tiga hal
yang perlu diperhatian guru dalam penilaian proyek: 1)keterampilan
peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan
menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis
laporan;2)kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan
sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta
didik;3)keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan
oleh peserta didik.
1. c. Portofolio
Penilaian portofolio
merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan
dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa
berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi
secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan
beberapa dimensi.
Penilaian portofolio
dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini:1) Guru
menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio;2)Guru atau guru bersama
peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat;3)Peserta didik,
baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun
portofolio pembelajaran;4)Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta
didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya;5)Guru menilai
portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu;6)Jika memungkinkan, guru
bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang
dihasilkan;7)Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian
portofolio.
1. d. Penilaian
Tertulis
Tes tertulis berbentuk
uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami,
mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan
sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian
sebisa mungkin bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
H. RPP
RPP dijabarkan dari
silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai
KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap
dan sistematis.RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu
kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan
yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
Komponen RPP ( Standar Proses No 65 Th 2013)
- Identitas
Sekolah
- Tema/subtema
- Kelas/
semester
- Materi
Pokok
- Alokasi
Waktu
- Tujuan
pembelajaran
- Kompetensi
dasar
KD - KI 1
KD – KI 2
KD – KI 3
Indikator ....
KD – KI 4
Indikator...
- Materi Pembelajaran
- Alokasi
waktu
- Metode
pembelajaran
- Media
Pembelajaran
- Sumber
belajar
- Langkah-langkah
Pembelajaran
- Penilaian
hasil Pembelajaran
Istilah standar
kompetensi pada kurikulum 2013, tidak dikenal lagi. Namun muncul istilah
kompetensi inti.
Kompetensi inti adalah gambaran mengenai
kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan
keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta
didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan tema; Kemampuan yang harus dimiliki
seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran.
Prinsip Penyusunan RPP
meliputi:1)memperhatikan perbedaan individu peserta didik; 2)mendorong
partisipasi aktif peserta didik;3)mengembangkan budaya membaca dan menulis;
4)memberikan umpan balik dan tindak lanjut; 5)keterkaitan dan
keterpaduan;6)menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.
Pelaksanaan Proses
Pembelajaran: 1)Kegiatan Pendahuluan; 2)Kegiatan Inti:(a)Eksplorasi,
(b)Elaborasi, (c)Konfirmas(ditambah pendekatan scientific):3) Kegiatan
Penutup.
Keterangan Pelaksanaan Proses Pembelajaran
- 1. Kegiatan
Pendahuluan
·
Orientasi:Memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan
dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan
illustrasi, menampilkan slide animasi (jika memungkinkan), fenomena alam,
fenomena sosial, atau lainnya.
·
Apersepsi:Memberikan apersepsi awal kepada peserta didik tentang tema yang
akan diajarkan.
·
Motivasi:Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari tema yang akan diajarkan.
·
Pemberian Acuan
1. Berkaitan dengan tema
yang akan dipelajari.
2. Acuan dapat berupa
penjelasan tema dan materi dari beberapa mata pelajaran.
3. Pembagian kelompok
belajar.
4. Penjelasan mekanisme
pelaksanaan pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah
pembelajaran
2.
Kegiatan Inti
·
Proses pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar.
·
Dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik.
·
Menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta
didik dan tema, yang dapat meliputi proses:
- Eksplorasi;
- Elaborasi;
- Konfirmasi;
dan
- Pendekatan Scientific
3. Kegiatan Penutup
·
Kegiatan guru membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk membuat
rangkuman/simpulan.
·
Pemberian tes atau tugas, dan memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran,
dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian
remidi/pengayaan.
Pada langkah
pembelajaran dalam RPP pengembangan sikap, keterampilan dan pengetahuan harus
tampak.Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan ilmiah atau scientific
approach padaproses pembelajaran.
Contoh Format RPP:
Satuan Pendidikan :
...........................................................
Kelas/Semester : ..........................................................
Tema
: ...........................................................
Sub
Tema :
.............................................................
Pertemuan ke :
.............................................................
Alokasi Waktu :
.............................................................
A. Kompetensi Inti
B. Kompetensi Dasar
Indikator
Pencapaian Kompetensi
C. Tujuan pembelajaran
D. Materi ajar
- Metode
pembelajaran
F. Kegiatan Pembelajaran
- Pendahuluan
- Inti
- Penutup
G. Alat dan Sumber Belajar
-
Alat dan Bahan
- Sumber Belajar
H. Penilaian
dan Hasil Belajar
-
Teknik
-
Bentuk
-
Instrumen (Tes dan Nontes)
-
Kunci dan Pedoman penskoran
- Tugas
Demikian resume materi Pelatihan
Kurikulum 2013 di SDN 1 Ciruji Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak tanggal 01
– 05 Juli 2014 yang saya buat. Saya
mengucapkan terima kasih kepada para Tutor yang telah memberikan ilmu dan
pencerahan terkait Implementasi
Kurikulum 2013.
Sekian dan terima kasih.
Banjarsari, 05 Juli 2016
Wandri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar